<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5669884687860723271\x26blogName\x3d.\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://afandyna.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3dsq_AL\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://afandyna.blogspot.com/\x26vt\x3d2811774403015623458', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

.


Wanita Karier Versus Masa Depan Anak

Bagi Mereka yang tidak memahami ajaran islam dan tidak mengetahui kedudukan perempuan dalam islam -sebagaimana yang telah dilakukan oleh kelompok feminisme dan pendukungnya yang menuntut persamaan jender antara laki-laki dan perempuan- menyebabkan perempuan lebih mengutamakan bekerja dari pada mengurus keluarga dan mendidik anak.
Perempuan yang lebih memprioritaskan bekerja di luar daripada merawat anak-anaknya, akan rela meninggalkan anaknya manjadi mangsa zaman. Pada akhirnya kasih sayang anak kepada ibunya akan hangus dan tidak ingin menjadi seperti ibunya yang sibuk di luaran.
Harmonisasi keluarga akan sulit diwujudkan karena sekembalinya ibu dari pekerjaannya dia akan membawa wajah yang tidak indah dipandang, yang sebenarnya anak-anaknya mendambakan sentuhan-sentuhan manja dari ibu dan bermain bersamanya, akan tetapi ibu malah marah-marah dan membentak anak-anaknya agar tidak berisik karena si ibu merasa letih dan kecapean.

Mungkinkah perempuan dapat melaksanakan tiga pekerjaan yang msutahil : bekerja di luar rumah, merawat dan melayani suami dan mengasuh anak serta mendidiknya?!.
Sekiranya perempuan dapat sukses melaksanakan ketiga pekerjaan di atas, tidak bedanya juga dengan perempuan Timur pasti akan sukses, karena perempuan Barat sudah langsung menerapkannya sejak ratusan tahu yang lalu (bekerja di luar sama seperti laki-laki), namun yang terjadi hanyalah kehancuran rumah tangga, kebrutalan anak dan merajalelanya perzinahan dan prostitusi.
Dr. Hanes Keirkhof menjelaskan : Banyak pengaduan yang semakin hari semakin bertambah seputar tiga perkara yang digarap oleh perempuan yaitu : profesi atau pekerjaan, mengurus rumah dan keluarga.
Ya memang kadang perempuan bisa mendapatkan keuntungan dari pekerjaannya di luar rumah, sedikit atau banyaknya, akan tetapi uang yang didapatnya malah dipergunakan untuk membeli aksesoris dan alat-alat kecantikannya dengan alasan karena dia sendiri yang mencari uang, sedangkan anak-anaknya menjadi korban, lebih berharga mana, uangkah atau anak?
Sesungguhnya pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan bukan lah bersumber dari sebuah dorongan kebutuhan primer, melainkan hanya kebutuhan tersier. Maka sebenarnya perempuan sekarang tidak perlu untuk bekerja keras mencari uang, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menjaga harmonisasi keluarga dan mendidik anak dengan baik.
Seberapa banyak dari pasangan hidup yang gagal dalam membina rumah tangganya hanya karena disebabkan oleh satu factor, yaitu aktifitas isteri di luar rumah tanpa adanya kebutuhan. Hal ini jelas-jelas akan melahirkan problematika rumah tangga, karena keinginan suami agar isterinya diam di rumah, sama sekali tidak diwujudkan oleh isteri, yang akhirnya suami tinggal di rumah dan isteri keluar mencari nafkah, lalu anaklah yang menjadi korbannya.
Ada seorang perempuan berkata : Saya belajar bukan hanya untuk diam di rumah, tapi saya belajar untuk bekerja sama seperti laki-laki..
Kami katakan kepada perempuan ini : Anda belajar, agar anda bisa membaca dan memahami fenomena kehidupan yang bermacam-macam, mampu mendidik anak dengan baik, memahami psikologi anak dan merawat keluarga. Kemudian setelah itu anda berbakti kepada masyarakat sesuai dengan batasan syariat dan tidak mengganggu keluarga dan anak-anak.
Dan sesungguhnya perbuatan yang mengorbankan keluarga itu tidak akan ada nilainya sedikitpun dan tidak ada manfaatnya, bahkan bahayanya akan lebih besar. Unsur terpenting manusia adalah sebuah nilai (penghargaan), apalah artinya jika nilai tersebut hilang karena adanya pekerjaan. Sia-sialah pekerjaan itu!
Mayoritas ibu yang bekerja di luar rumah menitipkan anknya kepada pembantunya (baby sitter) untuk merawatnya dan mendidiknya sebagai ganti dari ibu yang asli, apakah sama antara ibu yang asli dengan ibu pengganti? Apakah anak akan mendapatkn kasih sayang dan perhatian yang layak dari ibu penggantinya?
Sesungguhnya keberadaan ibu di pelukan anak pada tahun pertamanya sangatlah penting untuk perkembangan emosinya dan psikologinya. Maka anak kecil yang tumbuh dalam asuhan pembantu dan jarang melihat kehadiran ibunya, sangat tidak diragukan lagi bahwa anak akan tumbuh menjadi anak yang tidak baik, bahkan anak yang nakal dan keras kepala.
Dalam dunia sekolah anak-anak juga akan dapat dilihat perbedaannya antara mereka yang melalui tahun pertamanya di rumah sakit, meskipun mereka mendapatkan perawatan yang maksimal, tapi tetap saja akan merasa haus dengan kasih sayang ibu, mereka kurang mendapatkan perhatian, motifsi dan merasa tidak ada orang yang membutuhkannya, intinya mereka mendambakan kasih sayang yang hakiki. Anak-anak seperti ini jika besar akan sulit untuk bergaul dengan masyarakat, takut, tidak percaya diri dan tidak mampu memberikan serta merefleksikan kasih sayangnya kepada orang lain.
Inilah salah satu problematika yang ditimbulkan dari ketidakpedulian ibu untuk merawat anaknya dan tidak memberikan cinta kasih yang cukup.
Ada juga yang perlu dicatat oleh kaum ibu, bahwasanya pembantu atau baby sitter meskipun tidak mampu menggantikan peran sang ibu, mereka juga tidak mampu memberikan pendidikan layak yang diinginkan oleh kedua orang tua, karena mayoritas pembantu kurang memiliki lmu yang layak dan akhlak yang baik, terlebih lagi jika si pembantu bukanlah seorang muslimah, maka akan mendatangkan bahaya bagi anak.
Fenomena tersebut telah berlaku di masyarakat Meksico dengan maraknya para pembantu berbeda agama (Nashrani, Budha dan Hindu), di samping itu juga tingkat kecerdasan mereka yang kurang memadai bahkan tidak bisa baca tulis dan berbahasa arab, akhirnya mayoritas pembantu adalah anak-anak kecil.
Apa yang bisa kita harapkan dari mereka yang berbeda akidah dan tidak berpendidikan dalam mendidik anak-anak. Dan kami dengan segala kemampuan yang kami miliki senantiasa memperjuangkan anak-anak kami dan melindunginya dari hal-hal yang melahirkan sikap negative bagi anak, dan kami sangat tidak menghendaki untuk menerapkan hal seperti di atas dengan menitipkan anak kepada pembantu yang tidak berpendidikan dan berbeda akidah.
Ada sebagian keluarga yang menuntut isterinya untuk bekerja ke luar rumah karena tuntutan materi, bagaimanakah perempuan seperti ini membagi waktunya untuk urusan rumah tangga dan pekerjaannya di luar rumah?..
Sekarang memang kita telah dihadapkan dengan sebuah fenomena yang tidak memberikan pilihan kepada perempuan selain bekerja dan diam di rumah, bahkan sudah dituntut untuk bekerja dan mengembangkan potensi yang ada. Isteri dan ibu seperti ini pada jam-jam kerjanya haruslah menitipkan anak-anaknya ke sebuah lembaga yang sudah diyakini kwalitas dan keamanahannya, seperti hadhanah (play group), keluarga atau sanak saudara. Dan harus menyisihkan waktu luang untuk berbagi rasa dengan keluarga.
Menitipkan anak di sebuah lembaga play group juga bukanlah berarti ibu lepas tanggungjawab dan merasa puas dengan pendidikan yang sudah diberikan di sana, sebelum melangkah hendaklah memilihkan play group yang terbaik untuk anak, bukan hanya pada peraturannya, kebersihannya dan ketertibannya, namun yang terpenting adalah pendidikan agama, penanaman akidah dan penerapan akhlaknya, terutama akhlakul karimah, sehingga anak betul-betul menerima pelajaran yang lurus.
Dan anak-anak sangat mencintai para pengasuhnya di play group, segala yang dilakukan pengasuh akan ditiru oleh anak, bahkan lebih banyak pengaruhnya dari pada pengaruh ibu, di sinilah terbukti betapa pentingnya peranan pengasuh terhadap tingkah laku anak.
Apabila keluarga tidak mau menitipkan anak ke sebuah play group, maka anak dapat dititpkan dengan kakek neneknya, paman dan bibinya yang justru kadang lebih baik daripada di titipkan di sebuah play group. Adapun menitipkan anak pada tetangga akan jauh lebih berbahaya dari pada dititipkan di play group, karena tetangga tidak memiliki tanggungjawab penuh terhadap si anak dan merasa bukan saudaranya, namun ada juga tetangga yang sangat baik, tetapi sangat jarang dan sulit.
Sebaiknya seorang ibu rela berkorban meninggalkan pekerjaannya sejenak demi merawat anak, meskipun income keuangannya lebih sedikit dan selama masih ada pengganti yang dapat memenuhi kebutuhan primer dan ini cara yang lebih konkrit dalam merawat anak terutama pada 5 tahun pertama dari pada menitipkannya di play group dan sebagainya..
Kadang-kadang ada perempuan yang cerdas dan dapat berpikir bijaksana demi mencapai dua keuntungan tanpa ada pihak yang dirugikan, dia menjadi ibu juga tetap bekerja. Dan pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang menyita waktu banyak sehingga mengabaikan anak, seperti menjahit, menyulam, membuat yogurt dan sebagainya.
Dengan ini ibu bisa mendapatkan income keluarga yang lebih besar dan bisa melahirkan anak-anak yang pintar dan benar. Pekerjaan ini sudah banyak dipraktekkan dan benar-benar mendapatkan laba yang memuaskan tanpa harus pergi jauh-jauh meninggalkan anak dan keluarga.

Emërtimet:

« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

24 mars 2010 në 5:06 e paradites

artikel yang saya butuhkan, thank's !    



24 mars 2010 në 5:07 e paradites

artikel yang saya butuhkan, thank's !    



» Posto një koment